EN / ID

Moki dan Prajurit-Prajurit Terpanah by qubicle.id

28 August 2016

Article of "Soldiers Without Kings" Exhibition
Writer: Ananda Badudu


Seandainya Bendara Raden Mas Herjuno Darpito atau Sri Sultan Hamengkubuwana X suka blusukan, suka jalan-jalan ke gang-gang di seputaran Yogyakarta, suka jalan-jalan dari satu pameran ke pameran lain, mungkin suatu hari nanti ia akan bertemu dengan prajurit-prajurit keraton bikinan seniman Prihatmoko Moki. Prajurit-prajurit yang berjalan tanpa raja, tertusuk panah di sekujur tubuhnya, tapi masih bisa jalan layaknya orang biasa.

Prajurit Kalah Tanpa Raja adalah tema yang belakangan mendominasi karya-karya seniman kelahiran 1982 asal Yogyakarta itu. Gambar-gambarnya dipajang di banyak tempat. Di instagram, di ruang-ruang pameran, juga di jalan-jalan seputaran Yogya. Yang terakhir ini adalah proyek terbaru Moki, mengangkat gambar-gambarnya menjadi mural. Jadi nanti si prajurit-prajurit yang tertusuk panah itu juga ada di jalanan, tak hanya di ruang pamer atau instagram saja.

Tema Prajurit Kalah Tanpa Raja bermula dari proyek personal Moki membuat komik-komik dengan tokoh para prajurit keraton. Ia membuat gambar, sementara penyair Gunawan Maryanto menambahi kata-kata.

"Prajurit keraton itu ada 10," kata Moki. "Nama-nama mereka dipakai jadi nama jalan di Yogya," katanya. Memang, para prajurit itu kini tak lagi mengemban tugas militer layaknya dulu kala. Sekarang mereka hanya jadi simbol saja dan muncul sekali-sekali kalau ada upacara keraton.

Tapi walaupun jarang muncul, para prajurit tetap terasa dekat dengan warga Yogya karena nama-nama mereka dipakai jadi nama jalan. Jalan Prawirotaman yang kini terkenal jadi jalan tempat turis bule nongkrong, misalnya, diambil dari nama prajurit Prawiratama. Atau jalan Mantrijeron, jalan penghubung Tirtodipuran dengan Jogokaryan, diambil dari nama prajurit Mantrijero.

"Di setiap jalan itu rencananya saya akan membuat mural para prajurit kalah tanpa raja. Prajurit Prawiratama di jalan Prawirotaman, prajurit Mantrijero di Mantrijeron, begitu seterusnya," kata Moki.

Figur para prajurit adalah sebuah metafora. Ia diangkat jadi tokoh komik untuk mewakili warga Yogya. Soal panah-panah yang menghunus badannya, kata Moki, juga adalah sebuah metafora akan apa yang dirasakan warga Yogya saat ini. "Perkembangan kota Yogya yang sekarang berjalan tidak sesuai seharusnya. Setidaknya itu menurut saya", katanya. Bisa dilihat dari pertumbuhan hotel-hotel yang tumbuh di mana-mana tanpa mengikuti kaidah tata kota, juga persoalan air tanah untuk warga yang semakin sulit didapat karena perkembangan pembangunan yang seolah tak terkendali.

Juli lalu, Moki mendapat kesempatan berpameran di Redbase Foundation, Bantul. Tema itu pula yang ia angkat dalam pameran yang berlangsung dari 29 Juni sampai 23 Juli lalu itu. Tapi ruang pamer, sama halnya dengan instagram, menurut Moki daya jangkaunya terbatas. Oleh sebab itu ia akan memindah karyanya ke dinding-dinding kosong di sekujur kota.

Source: www.qubicle.id

articles


2017

2016

2015