EN / ID

Lagi-Lagi Ketemu Bakteri by qubicle.id

28 August 2016

Article of "FRICTION" Artist in Residency Exhibition
Writer: Ananda Badudu


Ketika memulai masa residensi di Redbase Foundation, Yogyakarta, Abshar Platisza sebenarnya sudah punya ide mau membuat apa. Seniman 24 tahun itu berencana membuat karya lukis seperti yang sudah pernah ia kerjakan sebelumnya. Ia biasa membuat lukisan memakai arang alias charcoal. Di tengah jalan, ia berubah pikiran. "Rasanya bosan membuat karya seperti itu lagi," katanya.

Ia kemudian teringat pada negatif-negatif foto lawas yang pernah dibelinya di pasar klitikan Yogyakarta setahun lalu. Negatif foto itu memberinya inspirasi, mengapa tidak membuat karya dari benda-benda itu? Kemudian berangkatlah lagi Abshar ke pasar klitikan mencari negatif-negatif foto lawas. Ia membawa pulang satu dokumen berisi foto-foto kehidupan warga di tepian Kali Opak tertanggal 1970-1971.

Kalau hanya dicetak begitu saja tentu kurang seru. Kurang terasa sentuhan-sentuhan seni dari seniman lulusan Fakultas Seni Rupa ITB itu. Kunjungan ke HONFab Lab menginspirasi Abshar bermain-main kembali dengan bakteri, sesuatu yang ia pernah pelajari di jurusan Peternakan Unpad dulu. Sebelum diterima di ITB, Abshar sempat berkuliah di Jurusan Peternakan Unpad selama setahun. "Saya masuk sana karena asal pilih kuliah saja berhubung gagal masuk ITB," katanya.

Di HONFab Lab, Abshar belajar cara menernak bakteri dengan baik dan benar. Kalau ia sudah menguasai masalah itu, sebenarnya ia bisa menentukan bakteri apa yang hendak dikembangbiakkan. Ia misalnya bisa memilih bakteri warna apa yang mau dikembangkan guna menunjang estetika karyanya. Tapi karena masa residensi singkat, dan perkakas yang dibutuhkan terlampau kompleks, ia berangkat dari apa yang ada saja dulu.

Berbekal negatif foto dan pengetahuan membiakkan bakteri, ia turun ke lapangan menuju Kali Opak. Sungai yang mengalir dari Jogja paling utara hingga paling selatan. Sungai yang dipakai warga untuk menunjang berbagai macam kegiatan, mulai dari cuci baju, memandikan sapi, hingga kegiatan senang-senang seperti berenang atau loncat-loncat nyebur ke kali.

Pada pameran yang diberi nama Fricition itu, ada sekitar 20-an negatif foto olah Abshar yang dipajang sebagai karya. Sebagian dari negatif itu dicetak dan dijadikan foto berukuran besar. Tampaklah siluet-siluet bakteri itu menimpa gambar-gambar yang ada pada foto. Ada kakek-kakek mendayung rakit bambu. Ada ibu-ibu berbeha mencuci baju. Ada kakek memandikan sapi.

Karya-karya dalam Friction bisa dikata masih sejalan dengan karya-karya Abshar sebelumnya. Ia selalu tertarik akan peran teknologi dalam kehidupan manusia, apakah memajukan, membantu, atau justru malah membuat mundur peradaban dengan meminiggirkan manusia dan mendagradasi kemanusiaan?

Source: www.qubicle.id

articles


2017

2016

2015