EN / ID

Menafsir Ulang Relasi Seni Dengan Publik by KOMPAS

29 January 2016

Article of "PRESCENSE" Artist in Residency Exhibition & "EVOLUTION" exhibition
Writer: Lusiana Indrisari

Dalam dunia seni yang sudah mapan, seniman hampir selalu mendapatkan penghargaan atas karya-karya yang dihasilkan. Padahal, semua itu tidak akan berarti tanpa kehadiran publik yang mau menonton dan mengapresiasi karya seni tersebut. Michal Mitro mencoba mendobrak kemapanan itu.

Seniman kelahiran Slowakia pada 1989 ini memiliki latar belakang pendidikan ilmu sosial. Setelah lulus dari jurusan psikologi dan sosiologi di Republik Chechnya pada 2013, ia belajar seni patung dan membuat seni dengan bunyi-bunyian (sonic art) di Australia. Ia melanjutkan pengembaraannya di dunia seni dengan belajar karawitan di Institut Seni Budaya Indonesia, Bandung.

Kemudian, Mitro menjelajah ke Yogyakarta. Dia bergabung dengan program residensi yang diadakan Redbase Foundation, lembaga nonprofit di bidang seni yang berlokasi di Yogyakarta. Dari hasil interaksinya bersama masyarakat setempat, Mitro menghasilkan beragam karya yang dipamerkan pada 15 Januari-15 Februari di galeri milik Redbase Foundation di daerah Sewon, Bantul, DI Yogyakarta.

Interaktif

Mitro menghadirkan karya seni instalasi dengan media yang sangat beragam. Ia menggabungkan berbagai elemen suara, cahaya, lukisan, dan patung menjadi seni instalasi yang interaktif. Dengan tajuk Presence, Mitro mencoba menjadikan karyanya mampu memberdayakan kehadiran penonton. Dengan caranya, ia ingin membangkitkan sebuah karya seni.

Mitro mencoba mengubah pandangan tentang hubungan karya seni, seniman dengan penontonnya. Menurut Mitro, fokus dari sebuah karya seni adalah pada penonton. Karya Mitro berfokus pada nuansa keseharian dari masyarakat yang ia anggap mengundang pemikiran kritis.

"Dalam dunia produksi seni dan konsumsi seni yang sudah mapan, si seniman yang selalu mendapatkan penghargaan. Kita lupa bahwa tanpa apresiasi publik, tanpa orang-orang yang mau datang ke galeri, hasil karya seniman tidak eksis dan tidak punya nilai," ujar Mitro saat dihubungi dari Jakarta, Senin (18/1).

Pada kesempatan yang sama, Redbase Foundation menampilkan karya-karya Dedy Shofianto, seniman Indonesia yang banyak bekerja dengan material kayu untuk menghasilkan karya seni yang fokus pada visual dan gerak (kinetic art). Dengan tema Evolusi, Dedy membuat tiruan bentuk kumbang badak yang berubah bentuk untuk melambangkan semangat hidup.

Inspirasi karya itu ia ambil dari ingatan masa kecil, di mana Dedy biasa bermain-main dengan kumbang badak bersama teman-temannya. Sayangnya, kumbang badak sekarang sudah sulit ditemukan karena habitatnya rusak oleh pembangunan perkotaan.

Karya tiga dimensi Dedy mengombinasikan bentuk, sains, teknologi, mekanikal, dan nilai estetika. Bentuk tanduk kumbang ia buat dari komponen gir, piston, baut, dan lain-lain. Komponen mekanik itu membentuk gambaran baru tanpa menghilangkan karakter kumbang badak. Dedy menampilkan tujuh karya yang semuanya terbuat dari kayu dengan mempertimbangkan kekuatan, kapasitas, dan keseimbangan.

Dedy merupakan seniman muda kelahiran Jambi tahun 1991. Tahun lalu, ia lulus dari Institut Seni Indonesia di Yogyakarta. Namun, sejak 2012, Dedy sudah aktif berkarya.

Source: http://print.kompas.com

articles


2017

2016

2015