EN / ID

Antara Meli, Anak-anak, dan Sebuah Tantangan Dari Dosen by Qubicle.id

12 February 2017

Article of "TRANSLUCENT" artist in residence exhibition #4 by Meliantha Muliawan
Writer: Ananda Badudu


Adalah tantangan dari seorang dosen yang mengantar Meliantha Muliawan menjelajah sampai ke sini. Saat mempresentasikan Tugas Akhirnya media 2014 lalu, si dosen memberi saran pada Meli agar jangan berhenti di gambar saja. Si dosen itu mendorong Meli mengeksplorasi medium-medium lain selain kertas dan kanvas. Maka Meli mulai mencoba-coba bermain dengan resin. Dan pada pameran tunggal pertama Meli di Yogyakarta, semua karya yang ia buat bermediumkan resin.

"Waktu bikin tugas akhir itu, karyaku sebatas gambar-gambar saja," kata Meli saat ditemui di pembukaan pemeran bertajuk Translucent di Redbase Foundation, Bantul, Yogyakarta Jumat 20 Januari 2017 lalu. "Pas sidang TA, salah satu dosen bilang begitu padaku."

Sejurus kemudian Meli mengambil telepon genggam dan menunjukkan karya-karya lawas yang ia unggah di instagram setahun dua tahun lalu. "Dulu aku banyak gambar figur-figur, seperti gambarnya Yoshitomo Nara." Nara adalah seniman asal Jepang yang sering sekali menggambar seorang perempuan komikal yang kepalanya mirip lobak, matanya berjauh-jauhan, dan selalu tajam saat memandang. Begitu seringnya Nara menggambar si figur perempuan itu, baik dalam karya-karya gambar di kertas maupun lukisan kanvas, sehingga figur itu amat melekat dan menjadi signature style Yoshitomo Nara.

Jika menyandingkan gambar Meli yang dibuatnya dulu dengan figur signatur Yoshitomo Nara, kita sedikit banyak bisa memahami mengapa si dosen memberi nasehat seperti itu pada Meli. Agaknya dorongan yang disampaikan si dosen pada Meli masuk akal juga. Jika eksplorasi Meli sebatas gambar dan membuat figur saja sulit membuat karyanya jadi tampak istimewa dan lain yang daripada yang lain. Jika Meli selamanya tak istimewa, maka ia begitu mudah diterpa waktu, lalu hilang disapu seniman-seniman baru yang lahir tiap bulan tiap tahun.

Meli mulai menjajaki resin sebagai medium gambar sejak 2015. Tahun itu bukan tahun pertama Meli bermain-main dengan resin. Sebelumnya sudah pernah, tapi tak pernah mengulik sampai seserius itu. Setelah setahun coba-coba, akhirnya Meli ketemu selahnya. Ia menemukan cara apik memadukan gambar dengan medium resin. Terlebih lagi ia menemukan resep meramu resin sehingga bisa sebening kaca, membuat Meli semakin yakin untuk mengelaborasi resin sebagai medium gambar.

Membuat resin semengkilat kaca bukan sesuatu yang mudah. Ia harus berulang-ulang mencoba merk-merk resin yang berbeda. Sebelum menemukan merk yang pas, Meli menghaluskan resin yang telah kering dengan amplas. Tapi hasilnya masih tak pas. Ia terus mencoba-coba lagi, sampai "akhirnya aku nemu yang bisa jadi seperti ini," kata Meli sambil menunjuk salah satu karyanya yang dipajang di ruang pamer. "Proses trial and error-nya panjang".

Karya Meli yang dipamer di Yogyakarta adalah karya-karyanya yang dibikin selama masa residensi di Redbase. Selama lebih dari tiga bulan ia tinggal di sana dan dipersilakan membuat karya apa saja menggunakan medium apa saja yang ia inginkan. Meli tetap memilih resin, medium yang tengah digelutinya setahun belakangan.

Semakin lama ia menghabiskan waktu dengan resin, Meli semakin sadar akan banyaknya kemungkinan yang bisa digali. Pada karya-karya yang dipamerkan, misalnya, ada tekstur baru yang belum pernah muncul pada karya-karya sebelumnya. "Aku baru menemukan teknik mengeringkan resin di plastik kresek," katanya. Walhasil resin itu kini menimbulkan efek baru. Jika sebelumnya sebatas menyerupai kaca saja, kini lebih dari itu ia jadi menyerupai air. Seolah Meli bisa menerakan tinta pada air. Teknik baru itu secara visual memanjakan mata, karya Meli dilihat dari kiri (seolah) jadi beda jika dilihat dari kanan. Dilihat dari atas jadi seolah beda jika dilihat dari bawah. Satu gambar yang sama bisa mengantar kita pada resepsi visual yang beda-beda.

Untuk hal tema, dalam pameran Translucent, Meli mengangkat soal anak-anak. Itulah sebabnya hampir semua gambar yang ia buat ada anak-anaknya. Suatu hari pada Oktober 2016 lalu di Yogyakarta ada acara sekatenan, Meli datang ke sana dan merekam peristiwa-peristiwa yang terjadi dan menerjemahkannya jadi karya. Begitu pula dalam karya-karya seri Dubbing, itu adalah hasil percakapan dan perangai anak-anak yang ia dengar dan lihat lalu ditangkap sekenananya saat sedang berada di dekat anak-anak.

Selama masa residensi di Yogyakarta, sebenarnya Meli menemukan banyak kemungkinan baru dalam hal eksplorasi medium resin. Namun tak semuanya sempat ia tuangkan dalam pameran Januari ini. Beberapa temuan baru ia simpan untuk digarap di karya-karya selanjutnya. Bolehlah kita anggap lewat pameran ini Meli berhasil menjawab tantangan dari si dosen. Berikutnya, Meli harus diberi tantangan baru. Selain soal medium, barangkali perihal kedalaman tema perlu juga diberi porsi yang lebih besar untuk dipikirkan dalam proses kreatif seorang Meliantha Muliawan.

Source: www.qubicle.id

articles


2017

2016

2015