EN / ID

Ekspresi Kekhawatiran Seniman Muda by akarpadinews.com

14 April 2016

Article of "Neglected Ordinaries" Exhibition
Writer: Muhammad Khairil

Untuk menunjang geliat seni visual dan mendorong seniman muda terus berkarya, REDBASE Foundation Yogyakarta, mengadakan pameran karya seni bertajuk Neglected Ordinaries. Pameran ini merupakan pameran bersama delapan seniman muda dari Bandung dan Yogyakarta.

Seniman tersebut ialah Argya Dhyaksa, Faisal Habibi, Prilla Tania, dan Muhammad Akbar dari Bandung. Sedangkan seniman muda Yogyakarta terdiri dari Akiq AW, Anang Saptoto, Fehung Yudha Kusuma, dan Hendra 'Blankon' Priyadhani. Mereka akan menampilkan karya seninya berupa karya multimedia, instalasi, dan fotografi.

REDBASE memilih tema neglected ordinaries atau kebiasaan yang terabaikan. Tema itu ditujukan untuk memaparkan sudut pandang berbeda atas suatu hal yang telah dianggap kebiasaan dalam masyarakat.

Melalui pameran ini, para seniman menampilkan elemen-elemen keseharian yang dirangkai secara estetis sehingga memunculkan perspektif kritis dalam menyikapi kondisi sosial dan budaya kekinian. Karya yang mereka suguhkan merupakan ekspresi dan eksplorasi estetis. Dengan cara demikian, kritik yang disampaikan lebih menyentuh.

Benang merah dari masing-masing karya para seniman ialah hal-hal yang lazim ada di masyarakat. Selain itu, karya yang disertakan dalam pameran ini memunculkan perspektif untuk mengajak publik berdialog dalam melihat makna yang tersimpan dalam hal-hal yang lazim dilihatnya melalui kacamata estetika.

Tema melihat sebuah kelaziman dalam kebiasaan ini dapat membuka perspektif publik bahwa ada makna dan simbol sosial budaya dalam masyarakat yang kerap terlupakan. Terkadang, hal-hal lazim dan normal dalam kacamata publik itu merupakan struktur pemikiran yang terdegradasi.

Hal itu dapat terlihat salah satunya pada karya Argya Dhyaksa bertajuk Times New Roman Nirrahim. Argya membuat karyanya itu pada tahun 2015 dengan bahan dinding keramik. Lewat karya instalasinya, Argya mencoba memperlihatkan sisi anomali sosial. Selain itu, kritik yang disampaikan Agrya melalui karyanya menampilkan persoalan degradasi nilai dalam masyarakat modern saat ini.

Melalui tulisan-tulisan yang terpampang dalam karyanya, Argya menampilkan kritik dengan gaya bahasa yang satire atas ironi yang telah terjadi dalam masyarakat. Tulisan-tulisan dalam karyanya itu dapat menjadi renungan bersama atas keadaan sosial budaya masyarakat yang telah tergerus sisi kemanusiaannya.

Dengan memadukan karya seniman muda dari daerah berbeda, pameran bersama ini memperlihatkan karya seni yang kaya, baik dari segi spasial maupun konseptual. Seniman muda yang menampilkan karyanya dalam pameran yang diadakan pada tanggal 13-27 April 2016 ini merupakan lulusan dari sekolah seni dari kota Bandung dan Yogyakarta.

Melalui pameran ini, REDBASE menunjukkan komitmennya untuk memberikan wadah kepada seniman muda tampil dan menunjukkan karya seninya, sekaligus menumbuh-kembangkan geliat seni, khususnya seni visual, di tanah air

Pameran ini juga menunjukkan bahwa seni tidak harus terkungkung pada satu jenis medium semata. Karena, medium hanya bagian dari wahana untuk menyampaikan makna dari sebuah karya seni. Melalui pameran ini, REDBASE memberikan kebebasan kepada seniman muda menampilkan karya eksploratifnya.


articles


2017

2016

2015